Rabu, 02 November 2011

El Camino a mi casa..., ~El Paradiso

El Camino a mi casa..., ~El Paradiso
KotaSantri.com - “Namaku Miranda Garza, aku seorang Spanyol yang sekarang tinggal di Indonesia. Umurku 17 tahun, aku bisa berbahasa Indonesia, senang berkenalan denganmu.”, dengan senyum ketar-ketir aku memperkenalkan diriku pada tetangga baruku di perumahan Bumi Indah. “Namaku Anggia Putri, senang berkenalan dengan kamu juga.” Itulah perkenalan singkat antara aku dengan Anggia, aku adalah seorang katolik dari keluarga yang taat beragama, sedangkan Anggia adalah seorang Muslimah yang religius. Rumah kami berdua berdekatan, saking sangat dekatnya, aku yang tomboy suka panjat genting rumahnya agar dapet langsung masuk ke kamar Anggia. Maklumlah soalnya rumah kami berdua ini saling berdempetan satu sama lain dan berlantai dua. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tapi tahun belum berganti tahun (soalnya belum nyampe hehe…). Kami telah saling mengisi satu sama lain, Aku dan Anggia menjadi teman yang baik. Aku bersekolah di Jakarta International School, sedangkan Anggia masuk di SMUN 78. kami berdua duduk di kelas 2 SMU. “Anggiaaa… help me!!!” Suara dari gagang telepon menyentak Anggia. “Kamu kenapa Mira?” “Aku sakit, Anggia. Estoy Enferma, Anggia.” Anggia segera menutup gagang teleponnya, segera ia menuju rumah tepat disampingnya. Bibi Iyem, sang pembantu rumah, mempersilahkan Anggia ke kamarku. Anggia pasti terkejut mendapati aku menangis di kamar. “Kamu kenapa Mira? Kenapa nangis gitu? Kamu sakit? Kamu punya masalah?” Anggia menggoyang-goyangkan tubuhku, dengan panik. “Kejutaaaaaaaan, hahahahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak. “Eh, kamu ngerjain aku kenapa?” Anggia juga tertawa melihat dirinya dipermainkan olehku. “Nada (tidak apa-apa), cuman pengen tahu sebesar apa kepedulian kamu terhadapku.” Ekspresi wajahku saat itu berubah menjadi serius. “Eh, kamu ini kenapa? Nggak biasanya, kamu bikin aku takut, tau nggak? Aku terburu-buru, liat Jilbabku. Berantakan, dasar Mira si Badut Spanyol.” Anggia menimpali dengan tertawa kecil. “Anggia, rambut kamu bagus kenapa musti ditutupi?” Aku selalu saja menanyakan hal yang sama. “Ini aurat, jadi harus ditutupi. Ini suatu kewajiban yang Tuhan berikan kepada kita dan kita harus menjalankannya. Lagi pula aku Pede dan Happy dengan ini.” “Kenapa Tuhan nggak berikan kebebasan untuk kita? Tuhan itu sangat cinta dengan kita, dan kita pasti akan ke surga jika kita percaya bahwa Yesus itu lahir di dunia sebagai sang penebus dosa. Jika Yesus nggak dilahirkan maka kita semua akan ke neraka. Percaya pada Yesus itu satu-satunya jalan yang membawa ke Surga.” Diriku memberikan argument sambil memainkan rambut kemerah-merahanku. “Kalau benar Yesus itu satu-satunya jalan agar kita bisa membuka pintu surga, dengan kematiannya? Lantas bagaimana nasib jutaan manusia yang lahir sebelum Yesus? Apa mereka akan masuk neraka semua? Kalau Tuhan menetapkan hukum itu, namanya tidak adil.” Anggia memberi jawaban yang cukup membuatku terdiam. Setelah episode itu tak ada jawaban dariku, aku hanya manggut-manggut saja tidak tahu apa yang harus aku katakan. Seperti kebiasaan diriku yang tomboy, aku memulai menjadi spiderwoman, merayap diantara genteng-genteng biru agar langsung dapat masuk ke kamar Anggia. Sore itu tepat jam 3 lebih 30 menit 42 detik, dengan tas “smile” berwarna kuning di punggungku, aku telah mendarat dengan selamat di jendela kamar Anggia. Waktu itu Anggia sedang shalat Ashar, aku hanya terdiam memperhatikan apa yang sahabatku lakukan. “Sangat sederhana dan natural” begitu yang dapat aku simpulkan. Aku mengingat-ingat apa nama gerakan ini, shalat. Ya, aku telah mengingatnya. Anggia dulu pernah mengatakan kepada diriku bahwa ini adalah shalat, suatu gerakan cara menyembah ummat Islam kepada Tuhan mereka. Aku melihat Anggia telah selesai melakukan shalat, segera saja aku meraih gagang jendela kamar Anggia, dan huup, aku meloncat masuk ke kamar Anggia lewat jendela. “Buenos Dias Anggia, Selamat sore Anggia.” Dengan wajah yang cerah dan senyum cengir khas gaya Spanyol. “Selamat Sore juga.” (Anggia masih sibuk melipat rapi mukenanya.). “Hehehe, Anggia selesai shalat?”, tanyaku. “Iya”, timpalnya. “Kenapa nggak pakai ketua, someone like a Pastor?” tanyaku ingin tahu. “Mira, dalam Islam tuh nggak ada yang namanya Pastor, Pendeta, Rabbi, de el el. Nggak ada mediator diantara kita dengan Tuhan. Kita bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.” “Apa kamu yakin doa kamu diterima?” Tanyaku penasaran. “Insya Allah, karena hal inilah yang saya yakini dan saya tidak punya keraguan tentang ini.” jawab Anggia santai. Oh Tuhan, dia begitu yakin dengan apa yang dia katakan, sedangkan aku selalu saja ada tanda Tanya besar dihatiku, aku selalu risau dengan hakikat Tuhan yang Trinitas, terus terang sampai saat ini aku belum paham tentang itu. Sungguh malu, Anggia selalu mengatakan padaku kalau Allah itu sempurna, satu, Dia tidak beranak dan juga tidak diperanakan, Anggia benar-benar mengerti hakekat Tuhan. Hal inilah sebenarnya yang menjawab semua keraguan-keraguanku selama ini. Tapi aku ingin sekali segera menghempasnya, aku tak mungkin mempercayai agama yang mengajarkan Teroris ini. Ya… ayahku sering bilang kalau agama inilah yang menjadikan dunia penuh dengan kebencian. Tapi segera saja prasangka burukku ini jauh-jauh pergi setelah aku melihat kemurahan hati Anggia. Dia begitu sopan dan baik. Dan yang membuatku kagum dia adalah seorang muslimah, selama bertahun-tahun aku menggambarkan orang-orang muslim itu jahat, kejam, tidak mengerti perasaan orang. Tapi setelah aku tinggal di Indonesia meninggalkan Spanyol, hal itu pupus sudah. Sore itu Anggia menceritakan kepadaku, selama berabad-abad Islam telah menguasai Spanyol. Islam membuat peradaban yang maju saat itu, padahal sebelum kedatangan Islam, Spanyol masih suatu bangsa yang tak mengenal jati dirinya. Ilmu pengetahuan belum banyak ditemukan. Kemudian hal itu dihancurkan oleh pasangan Raja dan Ratu beragama Kristen waktu itu, mereka membunuhi setiap warga Muslim disana. Lenyaplah peradaban itu, pembunuhan besar-besaran terjadi disana, Spanyol kota yang indah kala itu penuh dengan kejahatan & kekejaman yang dilakukan umat Kristen. Siapakah dari umat Kristen Spanyol tak akan merah mukanya, melihat pendeta-pendeta Kristen menghasut kekuatan untuk bertindak dengan kekejaman dan kebengisan setan terhadap suatu ummat yang dari mereka kita selalu menerima perlindungan dan kemanusiaan? Di bawah bangsa Arab Spanyol-lah jiwa kesatria timbul, yang kemudian diakui oleh prajurit-prajurit Kristen seakan-akan menjadi milik Kristen. Hal ini pasti akan membuat rasa sakit yang dalam bagi umat Islam, banyak masjid-masjid yang megah yang didirikan oleh Umat Islam sekarang diubah menjadi gereja-gereja suci bagi umat Kristen; Santo Cristo de Laluz, Santa Maria, Santa Tome, Santa Maria de Torenzito, sebuah nama-nama yang tak asing ditelingaku, rupanya di abad ke 14 merupakan masjid-masjid bagi Umat Muslim. “Islam masih akan mempersembahkan pembaktian kepada ummat manusia, karena Islam ditujukan kepada Dunia ini.” Anggia mengatakan itu dengan buku sejarah Islam ditangannya. Di akhir pertemuanku, Anggia memberiku sebuah buku, aku menanyakan siapa yang menulisnya. Anggia menjawab dengan senyuman di wajahnya, “Tuhan yang menulisnya.” “Gracias…(terima kasih).” Malam ini aku duduk di atas tempat tidurku, mendengarkan lagu-lagu berbahasa Spanyol kesukaanku. Baru saja lagu Concierto De Aranjuez dinyanyikan apik oleh CHANO. Kalau mendengarkan lagu-lagi ini serasa masih tinggal di Spanyol. Aku merindukan teman-temanku disana, Aku merindukan Walter Gomez, mantan pacarku yang tak lama aku telah putus dengannya setelah kepergianku menuju Indonesia. Ayahku seorang Diplomat yang diberi tugas di Indonesia. Aku tak keberatan dengan ini, karena aku suka mengunjungi tempat-tempat yang baru, dan menemukan hal-hal yang baru. Aku mematikan Tapeku, dan mengambil sebuah buku yang sore tadi Anggia telah memberinya padaku, aku membukanya… Disana terselip sebuah kertas yang sengaja Anggia berikan untukku dengan bahasa Spanyol. “El-Qur’an no es solo para Islam, El mundo no es solo para Islam, pero El Qur’an y Islam es para todos en el mundo.” “Al-Qur’an bukan hanya untuk Islam, Dunia ini bukan hanya untuk Islam, tetapi Al-Qur’an dan Islam untuk semua yang ada di dunia ini.” Aku membuka halaman-halaman Al-Qur’an itu, sedikit bingung memang, mana halaman yang pertama gumanku dalam hati. Aku membacanya, sungguh hatiku tak kuasa menahan kebenaran isi Al-Qur’an itu. Aku membaca surat Al-Ikhlas, surat berisi 4 ayat ini telah menjawab keraguanku selama ini. Sungguh mempesona dan benar gumanku dalam hati. Malam itu aku terus membaca buku itu, ada kisah tentang Isa (Yesus) ada kisah tentang Maria si perawan yang suci. Dan aku lebih mempercayai apa yang ada dalam buku ini dari pada yang aku dapatkan dari Bibelku. Sungguh jelas dan meyakinkan hatiku. Suara Adzan subuh membangunkan aku, tanganku masih memegang Al-Qur’an yang kemarin malam aku baca. Aku jarang sekali mendengar adzan di Spanyol, dan kini di Indonesia aku dapat mendengar suara panggilan ini 5 kali dalam sehari. 2 tahun dari peristiwa itu, aku semakin tertarik pada Islam, aku banyak membeli buku-buku tentang Islam dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia. Pengetahuanku bertambah, dan Anggia masih menjadi tempat yang terbaik untukku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar Islam. Ingin sekali rasanya aku meleburkan diriku dalam Islam, tetapi rasa takutku pada ayahku mengendorkan niat ini. Aku kembali merayap seperti spiderwoman, untuk meraih jendela kamar Anggia. Aku hanya ingin mendengarkan Anggia mengaji Al-Qur’an, aku tahu sehabis Maghrib adalah waktu dimana dia biasanya mengaji Al-Qur’an, dia mempunyai suara yang bagus. Ingin sekali bisa seperti dia. Anggia menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya, dan menyuruhku untuk duduk disampingnya. Dia mengatakan padaku, bahwa kematian itu sesuatu yang paling dekat dengan kita, walaupun kita membuat sebuah benteng besar untuk menghadangnya kita tidak akan mampu untuk menghadangnya. Kemudian dia melanjutkan cerita tentang Muhammad. Seorang nabi berbangsa Arab. Anggia menyuruhku untuk mengecek Bibel yang aku bawa. Yohanes 14:26, 15:26 dan 16:7. “Namun benar apa yang kukatakan padamu. Itu adalah lebih berguna bagimu, jika aku pergi. Sebab, jika aku tidak pergi, PENGHIBUR itu tidak akan datang padamu. Tetapi jika aku pergi, aku akan mengutusnya kepadamu.” (Yohanes 16:7). Aku membacakan salah satu ayat apa yang Anggia minta. “Ahmad atau Muhammad adalah seorang yang terpuji, sebuah kata yang dalam bahasa Yunani hampir sama dengan “Periclytos”. Sementara pada Injil Yohanes sekarang, misalnya pada ayat 16:7, kata Penghibur untuk bahasa Indonesia, kata “Comforter” untuk versi bahasa Inggris dan kata “Paracletos” untuk versi Yunani. Yang berarti “Advocate=pembela”, sehingga berarti seseorang yang memberikan pertolongan kepada yang lain.” Anggia kemudian mengambil 2 gelas Jus Melon dari kulkasnya dan melanjutkan lagi statementnya. “Para teolog udah sependapat kalau “Paracletos” berasal dari kata “Periclytos” yang dalam ucapan aslinya digunakan Al-Masih untuk mengisyaratkan kedatangan “Ahmad”, pembawa misi kerasulan sesudahnya. Bahkan kalau kita baca “paraclete”, hal itu menunjukkan bahwa dia adalah Rasul yang mulia pemurah dan pengasih terhadap sesama makhluk.” Anggia mengakhirinya dan memberiku kesempatan untuk berbicara. “Aku suka Muhammad, dia adalah seorang pemimpin yang adil dan seorang yang hebat, aku membaca sejarah kehidupannya dari buku karangan seorang Muslim Mesir. Aku yakin apabila seseorang mempelajari hidup dan sifat Nabi dari Tanah Arab ini, yang tahu bagaimana mengajar dan bagaimana ia hidup, maka ia akan merasa lain dan akan penuh hormat kepada Nabi agung, pembawa berita dari Yang Maha Kuasa, setiap kali aku mengulangi membaca riwayatnya, aku memperoleh semangat yang baru untuk mengaguminya dengan sepenuh hatiku.”, ucapku. “Kamu pintar Mira, semoga Allah juga memilihmu sebagai seorang Muslimah.” Anggia mengatakan kalimat itu lagi. Kemudian Anggia menyuruhku untuk membuka Al-Qur’an surat ash-Shaf ayat 6 : “Dan ingatlah, ketika Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel! Aku adalah utusan Allah kepadamu, untuk membenarkan taurat yang turun sebelumku dan menyampaikan berita gembira tentang kedatangan seorang rasul sesudahku, bernama Ahmad.” (QS. Ash-Shaf : 6). Aku selesai membacanya dan mulai mengerti. “Ahmad dalam Al-Qur’an ini adalah yang dimaksudkan Nabi Isa dalam Injilmu, dia adalah seorang penghibur, Rosul yang mulia.” Anggia menyelesaikannya dengan sangat jelas. Malam itu aku tak dapat tidur, aku memikirkan bagaimana nasibku jika malam ini mati dan aku masih dalam keadaan seperti ini, aku yakin Islam itu agama yang benar, bukan Katolik atau Kristen, bukan pula agama-agama yang lainnya, hanya Islamlah yang benar. Aku harus membuat suatu keputusan, dan aku harus berani untuk menjalaninya. Aku membuka catatan-catatan yang aku dapat dari Bibelku, banyak sekalai keraguanku tentang ayat-ayat di Bibel ini. Sering sekali pastor-pastor mengkhutbahkan kepada Jemaat Gereja dan orang-orang dimuka bumi ini bahwa Yesus dalam Bible itu sangat pemurah dan lembut menyampaikan kedamaian. Tapi kenyataannya? Aku membuka Lukas 12:49-53, “Aku (Yesus) datang untuk melemparkan api di bumi dan betapakah aku harapkan, api itu telah menyala. Aku harus menerima baptisan, dan betapa susahnya hatiku, sebelum hal itu berlangsung. Kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi? Bukan, kataku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Apa benar perkataannya ini? Dia mengajarkan pertentangan? Tak heran jika orang-orang Kristen Amerika menyerang negeri-negeri Muslim. Mereka mengamalkan ajaran dari Lukas : 49-53 ini. Mereka sungguh orang yang sesat. Kemudian pada Lukas 14:26, ada perkataan Yesus yang menyuruh membenci keluarga, “Jika seseorang datang kepadaku dan tidak membenci bapak, ibu, istri, anak-anak dan saudara-saudara lelaki serta saudara-saudara perempuannya, ya, dan bahkan jiwanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku…” Bukankah ini perkataan yang tidak pantas untuk dikatakan untuk seorang Yesus? Al-Qur’an lah sebuah Kitab suci yang memuat pernyataan yang benar tentang Yesus putra Maryam. Dia adalah seorang Rasul yang terkemuka di dunia ini dan diakherat nanti. Dia menghormati Ibunya dengan sebaik-baik penghormatan. Tidak seperti apa yang dikatakan Bibel pada Yohanes, 2:3-4 “Ketika anggur makin berkurang, ibu Yesus mengatakan kepadanya, “Mereka tidak mempunyai anggur.” Namun yesus mengatakan kepadanya, “Apa urusanku dengan engkau, (hai) wanita?...” Yesus digambarkan pada Bible sebagai seorang yang tidak menaruh rasa hormatnya kepada sang Ibu yang telah menjaga kehormatannya itu. Sungguh benar apa yang dikatakan Anggia beberapa waktu lalu, bahwa Bibel bukanlah kitab yang asli yang diajarkan Yesus untuk orang-orang Israel. Dan Al-Qur’an lah kitab persaudaraan yang Universal dengan bahasa yang tinggi dan mengaggumkan. Al-Qur’an lah sebuah kitab suci dari Tuhan Yang Kuasa. Orang mengatakan bahwa orang-orang Eropa di Afrika Selatan takut akan kedatangan Islam, obor terang “Spanyol Islam” yang telah menghotbahkan kepada dunia suatu Kitab Persaudaraan. Orang-orang Eropa di Afsel sangat takut akan kedatangan Islam, karena mereka takut akan kenyataan bahwa apabila bangsa asli itu memeluk agama Islam, mereka akan menuntut hak persamaan dengan orang-orang kulit putih. Patutlah mereka takut akan hal itu. Apabila persaudaraan itu suatu dosa, kalau persamaan antara bangsa-bangsa berwarna mereka takuti, maka ketakutan itu memang berlandaskan. Karena aku telah melihat bahwa setiap orang Zulu Afrikan yang memeluk agama Kristen tidak serta merta menjadi sederajat dengan orang-orang Kristen kulit putih Eropa, sedang segera setelah ia memeluk agama Islam, ia minum satu cangkir dan makan sepiring dengan seorang Muslim lainnya; itulah yang mereka takuti. Ya, orang-orang keji Eropa sangat menakuti persaudaraan kaum muslimin. (Gumanku dalam hati). Aku membuka jendela kamarku dan duduk di atas genteng biru rumahku, dingin sekali rasanya, bintang-bintang sangat indah tertata rapi di langit. Berapa jumlah bintang-bintang itu ya? Gumanku dalam hati. Kemudian aku mulai menghitung-hitungnya, aku tahu aku tak akan mampu, aku tahu aku tak akan mampu untuk menghitung seberapa besar cinta dan rahmat Tuhan yang telah Ia berikan didunia ini untuk para manusia. Tetapi kebanyakan para manusia itu tidak tahu terima kasih, kebanyakan dari mereka malah mendurhakai Tuhan. Semoga saja aku bukanlah salah satu dari mereka. Rasanya ingin menangis, menangisi kebodohanku selama ini, diriku yang hina ini telah memfitnah Tuhan, sungguh beraninya aku mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai anak? Bahwa Tuhan itu Tiga? Betapa besar dosa-dosaku selama ini. Sesudah 2 tahun aku mempelajari Islam dan agama-agama lainnya, aku memperoleh perbandingan yang memuaskan antara trinitas Kristen dengan Trimurti Hindu. Dalam hindu Tuhan itu dibagi menjadi Brahma, Wisnu, Syiwa. Dan dalam agama Kristen itu menjadi “Allah Bapak, Allah anak dan Roh Kudus.” Selain itu, aku juga sampai kepada kesimpulan bahwa sakramen “Perjamuan Malam” bukan berasal dari ajaran Yesus tapi dari kebudayaan Hindu. Aku juga melihat bahwa “Kristus” berasal dari kata Karistana yang berarti Tuhan Anak dalam teologi Trinitas dan trimurti Hindu. Sungguh memuakan, kenapa bisa Kristen bersumber pada agama yang menyembah binatang ini? Aku harus memilih Islam sebagai agamaku. Pagi-pagi sekali aku menemui Anggia, kali ini lewat pintu depan karena aku lihat jendela kamar Anggia masih tertutup. Yusuf adik Anggia membukakan pintu untukku. Segera aku menuju ke kamar Anggia, dengan perasaan tidak sabar. Dia kaget melihatku pagi-pagi sekali datang kerumahnya. “Anggia, aku ingin menjadi seorang Muslimah!!! Yo quiero ser una Buena molsumana.” Anggia hanya terdiam melihatku baik-baik kemudian ia menangis, menangis karena bahagia dan aku dapat merasakan kebahagiaan itu. “Ashaduala ila hailAllah wa ashadu ana Muhammadan Rasululah, Yo atestiguo que no hay nada digno de adoraci que Alla yo atestiguo que Mujammad es el profeta de Alla.” Aku mengucapkan 2 kalimah syahadat dengan cepat. Saat ini aku merasakan aku dapat mencium bau surga, dan belas kasih Allah melingkupi seluruh tubuhku, kehadiran Tuhan sangat aku rasakan. Hidupku telah siap untuk perjalanan selanjutnya di dunia ini dan aku akan berjalan menuju rumahku di surga di bawah pangkuan Islam, terima kasihku kuhaturkan untuk Allah, yang telah memilihku dari sekian milyar manusia di dunia ini sebagai seorang Muslimah. Kuhadapkan wajahku pada Yang Kuasa, tengadahkan tanganku bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat Nya dan anugerah yang indah. Karena telah menjadikan aku, seorang Spanyol berusia 19 tahun kembali kepada pangkuan Islam. Anggia sahabatku memelukku, kami berdua menangis dikamarnya. “Hermana Anggia, te a mo por el poder de Allah.” Aku mengucapkan lirih kata itu. (Saudara ku Anggia, aku mencintaimu karena Allah). “Tiada paksaan dalam memasuki Islam. Telah jelas perbedaan jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (Al-Baqarah : 256).

Kamis, 23 Juni 2011

Cerita Humor

Santri Bandel

Alkisah, ada seorang santri sebut saja Karim. Dia tergolong santri yang bandel. Dia sangat cinta dengan putri kyainya.
Suatu hari, Kyainya mengajar seperti biasa di masjid yang kebetulan bersebelahan dengan kamar putrinya. Dia iseng2 menyembunyikan sandal kyainya,.maklumlah santri yang bandel...
Walhasil, Kyainya mondar-mandir nyari sandalnya yang hilang. Kebetulan ada Karim lewat,..
“nak, lihat sandal yang kupakai tadi ngga’ ?”
“Ohm, mboten ngertos yai, menawi diagem putri njenengan yai,,,” Kata karim sok sopan.
Tanpa pikir panjang kyai menyuruh Karim untuk mengambil sandalnya yang hilang.
Begitu sampai dikamar putri kyai, Karim cengengesan. Putri kyai kaget melihat Karim yang tiba2 masuk kekamarnya.
“mau ngapain kamu kesini ???”
“Mboten usah panik Neng, kula kesini disuruh kyai untuk mencium kamu..”
“Apa? jangan kurang ajar kamu..!!” Kata putri kyai geram.
Tanpa basa-basi Karim langsung berteriak
“Yai, eneng mboten purun yai..”
“Nduk cepet tho nduk abahmu iki wes ngenteni sui koQ..”
Putri kyai Cuma pasrah dengan keadaan,
“tapi sing kiri mawon”
“yai, eneng purune seng kiri..?”Kata Karim semakin girang
“kabeh tho nduk!”
Spontan karim langsung nyosor,.....setelah itu Karim langsung pergi ngambil sandal kyainya yang disembunyikan dibelakang pintu kamar putri kyai dan menyerahkannya kepada kyai....E..ee..eeee...Dasaar Kariiim Kurang Ajar..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Hikmah :
 Jadi santri itu yang sopan, jangan kurang ajar sama orang lain terlebih

sama kyai..
 Jangan langsung percaya sama orang lain. Sebelum bertindak sebaiknya diselidiki terlebih dahulu ...

Puisi Q

RABBY

Tegarkanlah h-Tie Ini
Kuatkanlah diri ini dalam menapaki titian jalan-Mu
Rabby
Jikalau memang kegalauan h-tie ini
Tengah terkelabui oleh bayang-bayang Cinta
Yang mampu membutakan akan Engkau
Tegurlah aku
Jikalau memang keresahan h-tie ini
Tengah terobsesi oleh remang-remang Cinta
Yang mampu memalingkan akan Engkau
Luruskanlah aku,
Sejukkanlah h-tie ini
H-tie ini yang begitu galau
h-tie ini yang begitu resah
Diri ini yang berlumuran dosa
Diri ini yang begitu hina
Mengharap Ridha-Mu
Mengharap Maghfirah-Mu
Mengharap akan rahmat-Mu
Rabby
Hai Dzat Yang Maha Pengampun
Ampunilah aku
Atas dosa2 yang pernah aku perbuat
Rabby
Hai Dzat Yang Maha Agung
Tuntunlah hambamu ini
Kejalan yang Engkau Ridhoi
Bukan jalan orang2 yang Engkau murkai
Bukan pula jalan orang2 sesat

Puisi Q

Afwan...

Suatu saat nanti
Daunkan berguguran
Suatu saat nanti,
Mataharikan tenggelam
Suatu saat nanti,
Napaskan Terhenti
Ada Tangis ada tawa
Ada pertemuan ada perpisahan
Apabila Qta berani bercinta,
Maka bersiaplah kehilangan


Apabila Qta berani toex menyayangi
Maka bersiaplah Toex mengikhlaskan
Maaf toex luka yang pernah ku toreh
Maaf toex lara yang pernah ku Ukir
Maaf toex air mata yang kuteteskan
Maaf.. Maaf.. Maaf..

Senin, 21 Maret 2011

(فائدة)

بسم الله الرحمن الرحيم
(فائدة)
الفاعل من قام به الفعل ولا يكون إلّا مرفوعا نحو قام زيدٌ
Fa’il (Subyek) ialah orang yang melakukan perbuatan. Hukumnya dibaca rafa’ Contoh: قام زيدٌ(Zaed berdiri).
والمفعول من وقع عليه الفعل ولا يكون إلّا منصوبا ضربت زيدا
Maf’ul (obyek) Ialah yang dikenai perbuatan. Hukumnya harus dibaca nashab contoh: ضربت زيداً (Saya memukul Zaed).
ونائب الفاعل هو المفعول الذي أقيم مقام الفاعل بعد حذفه ولا يكون إلّا مرفوعا نحو ضرب زيد ويضرب عمرو
Na’ibul fa’il Ialah maf’ul yang diposisikan dalam posisi Fa’il setelah terjadi pembuangan Fa’il. Hukumnya harus dibaca Rofa’ contoh:ضُرِبَ زيدٌ (Zaed telah dipukul)ويُضْرَبُ عمْرٌو (Zaed sedang dipukul).
والمضاف والمضاف إليه كل اسمين بينهما نسبة جزئية نحو غلام زيد. الغلام منسوب لزيد فيسمى الأوّل مضافا والثاني مضافا إليه والمضاف يكون إعرابه بحسب العوامل التي قبله والمضاف إليه لا يكون إلّا مجرورا
Susunan Mudlof Mudlof ilaih atau disebut dengan Tarkib Idlofi ialah dua isim yang dirangkai menjadi satu yang antara kedua isim tersebut terdapat nisbat / status hubungan contoh: غلام زيد (pembatu Zaed); antara غلام dan زيد ada hubungan status kepunyaan, yakni غلام kepunyaan زيد . lafadz غلام disebut Mudlof dan lafadz زيد disebut Mudlof ilaih. Hukumnya: Mudlof harus dibaca sesuai tuntutan Amil dan Mudlof ilaih harus dibaca jarr.

وظرف الزمان هو اسم الزمان الذي يقع فيه الحدث نحو صمت يوم الخميس. وظرف المكان هو اسم المكان الذي يقع فيه الحدث نحو جلست أمام الشيخ. وكل من ظرف الزمان والمكان لا يكون إلّا منصوبا.
Dzorof zaman (keterangan waktu) ialah isim yang menunjukkan arti waktu terjadinya perbuatan/kejadian contoh: صمتُ يومَ الخميس (Saya puasa pada hari kamis). Dlorof makan (Ket.tempat) ialah isim yang menunjukkan arti tempat terjadinya perbuatan/kejadian contoh: جلستُ أمامَ الشيخِ (Saya duduk di depan seorang guru besar). Hukum keduanya harus dibaca nashab.
والحال هو الإسم الذي يبيّن هيئة الذّات وقت الفعل نحو جاء زيد راكبا ولا يكون إلّا منصوبا
Hal ialah isim yang memberi penjelasan keadaan orang yang bersangkutan ketika terjadinya perbuatan contoh: جاء زيد راكباً (Zaed datang dengan berkendara). Hukumnya harus dibaca nashob.
والتمييز هو الإسم المبيّن ما انبهم من الذّوات نحو عندي رطل زيتا ولا يكون إلّا منصوبا
Tamyiz ialah isim yang sebagai penjelas perkara bendawi yang masih samar contoh: عندي رطل زيتاً (Aku punya satu rithl minyak zyt ). Hukumnya haras dibaca nashob.
والمفعول لأجله هو الإسم الذي فعل الفعل لأجله ولا يكون إلّا منصوبا نحو قمت إجلالا لزيد
Maf’ul li ajlih ialah isim yang memberi penjelasan tentang alasan mengapa suatu aksi diperankan. Hukumnya harus dibaca nashob contoh: قمت إجلالاً لزيد (Saya berdiri karena untuk memuliakan Si Zaed).
والمفعول معه هو الإسم المقترن بواو المعيّة وفعل الفعل معه نحو جاء الأمير والجيشَ أي مع الجيش ولا يكون إلّا منصوبا.والله أعلم.
Maf’ul ma’ah ialah isim yang bersama (berposisi setelah) wawu ma’iyah (wawu yang memberi arti kebersamaan) contoh: جاء الأمير والجيشَ (Presiden datang bersama TNI). Hukumnya harus dibaca nashob. Wallohu A’lam.
والمثنّى ما دلّ على اثنين بزيادة ألف ونون رفعا وياءٍ ونونٍ نصبا وجرّا نحو جاء الزيدان ورأيت الزيدين ومررت بالزيدين
Al mutsanna/isim tatsniyah ialah isim yang memberi arti berjumlah dua dengan ditambah alif dan nun dalam kondisi rafa’ seperti : جاء الزيدان (dua orang bernama zaed telah datang) dan ditambah ya’ dan nun dalam kondsi nashob dan jarr seperti: رأيت الزيدين (Saya melihat dua orang bernama Zaed) ومررت بالزيدين (Saya berpapasan dengan dua orang bernama Zaed).
وجمع المذكر السالم ما دلّ على جمع بواو ونون في أخره في حالة الرفع وياء ونون في حالتي النصب والجرّ نحو جاء الزيدون ورأيت الزيدين ومررت بالزيدين
Jam’ulmudzakkarissalim ialah isim yang menunjukkan arti berjumlah banyak (lebih dari dua) dengan tambahan wawu dan nun di akhir dalam kondisi rafa’ seperti: جاء الزيدون (beberapa orang bernama Zaed telah datang) dan dengan tambahan ya’ dan nun dalam keadaan nashob dan jarr seperti: رأيت الزيدين (Saya melihat beberapa orang bernama Zaed ومررت بالزيدين(Saya berpapasan dengan beberapa orang bernama Zaed).
والفرق بين المثنّى والجمع في حالتي النصب والجرّ أنّ ياء المثنّى مفتوح ماقبلها مكسور ما قبلها وياء الجمع مكسور ما قبلها مفتوح ما بعدها.
Sedangkan perbedaan antara isim tasniyah dengan jama’mudzakkar salim dalam kondisi nashob dan jarr ialah sebagai berikut:
o Isim tasniyah: huruf sebelum ya’ dibaca fathah dan huruf setelah ya’ dibaca kasroh.
o Jama’mudzakkarsalim: kebalikan isim tasniyah.
والمعرب ما تغيّر أخره بسبب اختلاف العوامل نحو زيد ورجل
Mu’rob ialah kalimah akhirannya bisa berubah-ubah lantaran perbedaan amil yang masuk contoh: زيد ورجل
والمبني ما لزم حالة واحدة كأين وأمس وحيث وكم. والله سبحانه وتعالى أعلم.
Mabniy ialah kalimah yang selalu dalam satu kondisi (selalu begitu/tidak bisa berubah) contoh: أين ,أمس ,حيث ,danكم.
والحمد لله ربّ العالمين
“Ridho (kerelaan) seoranng hamba ditandai dengan hati yang tenang (tentram)atas setiap keputusan Allah . Hati itu akan tabah dan tetap tenang ketika datang ketentuan yang pahit bahkan malah bergembira karena dia memandang bahwa itulah takdir dan pilihan Allah untuknya karena dia pun menyadari bahwa Allah telah memilihkan yang paling utama untuknya.”
( Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki )

Sabtu, 12 Maret 2011

An-Nahwu

بسم الله الرحمن الرحيم
Kalimah (الكلمة)
A.Definisi
الكلمة –هو- قول مفرد
Kalimah (dalam bahasa Indonesia disebut kata) menurut pakar ilmu nahwu ialah Qoul yang mufrod.
Yang dimaksud dengan Qoul ialah Lafadz bermakna seperti lafadz زيد (Si zaid) , رجل (seorang pria) , فرس ( kuda) , dll. Dengan demikian tulisan (bukan lafadz) dan lafadz yang tidak bermakna seperti ديز (kebalikan lafadz زيد ) tidak bisa dinamakan Qoul dan secara otomatis tidak bisa dikatakan kalimah.
Sedangkan Mufrod ialah lafadz yang bagian-bagian pembentuknya tidak menunjukkan makna seperti lafadzرجل ( huruf ر yang nota bene sebagai salah satu bagian pembentuk lafadz رجل tidak bermakna ). Tidak seperti lafadz غلام زيد yang bagian2 pembentuknya menunjukkan makna ; غلام menunjukkan makna sendiri , زيد juga menunjukkan makna sendiri.
Catatan: lafadz غلام زيدmemang tidak satu kalimah melainkan sudah dua kalimah yang tersusun.

B.Macam-macam kalimah
الكلمة جنس تحته انواع ثلاثة : اسم وفعل وحرف
Kalimah ada 3 macam : Isim, Fiil, dan huruf.
• Isim : lafadz yang mempunyai makna dan tidak terikat dengan dimensi waktu (lampau,sekarang,dan akan datang). Seperti kata رجل.
• Fi’il : lafadz bermakna yang terikat dengan salah satu 3dimensi waktu. Misal kata مشى- يمشي (berjalan)
• Huruf : lafadz yang tidak mandiri, yakni tidak bisa menunjukkan makna kecuali jika bergabung dengan kalimah lain.misal lafadz قد. lafadz tersebut tidak dapat menunjukkan arti kecuali disambung dengan kalimah lain contoh قد قام زيد lafadz قد disini menunjukkan arti تحقيق . artinya sesungguhnya.
C.Ciri-ciri kalimah.
C.1.Ciri-ciri kalimah isim.
Kita bisa mengenali kalimah isim dengan salah satu dari ciri-ciri berikut ini:
 Dapat menerima ال Seperti lafadz الرجل,الكتاب.
 Dapat dijadikan منادى (yang dipanggil). Misal: يا أيها النبي, يا لوط lafad النبي dan لوط adalah isim dengan bukti keduanya dijadikan منادى (dimasuki salah satu perangkat نِداء yakni يا ).
 Dapat dijadikan مسند اليه (disandari status) baik status yang disandarkan tersebut berupa fi’il,isim,maupun jumlah. Contoh: زيد أخوك (si zaid adalah saudaramu) lafadz زيد disandari status yang berupa status saudara yakni أخوك.
Catatan: Sebenarnya masih ada ciri2 isim selain 3 ciri diatas. Namun tiga yang tersebut diatas kiranya sudah mencukupi.

C.2.Ciri-ciri kalimah fi’il.
Perlu kita ketahui bahwa fi’il ada tiga yaitu fi’il madly(ماضي),mudlori’(مضارع),dan amr(أمر).
o Adapun fi’il madli dapat dikenali dengan ciri bisa menerimaتاء التأنيث الساكنة (ta’ ta’nits sakinah). Misal: قامتْ,قعدتْ
Lafad نعمَ,بئسَ,عسَىdan ليسadalah fiil madli dengan bukti bisa menerima ta’ ta’nis sakinah; menjadi نعمت,بئست,عست dan ليست.
o Sedangkan fiil amr adalah fiil yang menunjukkan arti memerintah serta bisa menerima ياء المؤنث المخاطبة (ya’ yang berarti perempuan yang diajak bicara/Engkau perempuan). Contoh: ارجعي kembalilah (yang diajak bicara adalah cewek)
o Dan fiil mudlori’ ditandai dengan ciri bisa menerima لم seperti lafadz لم يقُمْ serta diawali dengan satu dari huruf-huruf yang terhimpun dalam lafadz نأيت (نون,ألف,ياء,تاء) Huruf-huruf tersebut selamanya dibaca fathah kecuali pada fiil ruba’i (fiil yang -akar kata-nya terdiri dari 4 huruf); maka dibaca dlummah contoh: يُدخرج akar katanya adalah دخرج yang terdiri dari 4 huruf.
Catatan:
Masih ada ciri-ciri fiil selain yang tersebut diatas, diantaranya sebagai berikut: bisa menerima ضميرالفاعل,سوف,سين,قد atau نون التوكيد
misal: ليكتبَنَّ,ليكتبَنْ,اكتبَنَّ,اكتبَنْ,قُمْتَ,قُمْتِ,سوْف نذهبُ,سَتذهب,قد يقوم,قد قام. dengan demikian Lafadz يكتب,اكتب,قام,يقوم,تذهب,نذهب ialah kalimah fiil.
C.3.Ciri-ciri kalimah huruf.
Kalimah huruf ialah yang bukan isim dan bukan fiil. Dengan begitu tandanya adalah dengan ke-tidakbisa-annya menerima ciri-ciri kedua kalimah tersebut.
Kalimah huruf ini ada tiga model:
 Bisa menggandeng isim dan fiil seperti huruf هل contoh:
o هل أنتم شاكرون (yang menggandeng isim)
o وهل أتاك نبأ الخصم (yang menggandeng fiil)

 Hanya bisa menggandeng isim saja seperti huruf في contoh:
وفي السماء رزقكم وما توعدون
 Spesial masuk pada fiil seperti huruf لم contoh: لم يلد ولم يولد


Kalam ((الكلام
A. Definisi
والكلام قول مفيد مقصود
Kalam (dalam bahasa Indonesia disebut kalimat) ialah qoul yang memberi pemahaman serta dengan disengaja (diucapkan secara sadar). Seperti ucapan si zaid berdiri زيد قائم, saudaramu dudukجلس أخوك .
Catatan: poin memberi pemahaman tidak akan tercapai kecuali jika Qoul tersebut merupakan rangkaian dalam tarkib isnadi.
Sedangkan tarkib isnadi ialah rangkaian kalimah (struktur kalimat) yang diprogram untuk menghasilkan nisbat (status/hukum/predikat), yakni rangkaian kalimah yang terbentuk dari مسند (yang disandarkan) dan مسند اليه (yang disandari status/hukum) sehingga mengecualikan tarkib idlofi dan tarkib mazji.
B. Macam-macam kalam
Kalam terbagi 2 macam:
1. Berita (خبر),yaitu kalam/ucapan yang kandungannya punya kemungkinan benar atau salah. Misal zaid makan nasi.
2. Insya’ إنشاء)), yaitu ucapan yang tidak mengandung dua kemungkinan tersebut. Seperti ucapan yang bermuatan perintah,pertanyaan,pengandaian,dll contoh: duduklah!, Siapa namamu? ,“seandainya kekasihku datang.”

I’ROB ( الإعراب)
A.Definisi I’rob
الإعراب أثر ظاهر أو مقدّر يجلبه العامل في أخر الإسم المتمكن والفعل المضارع
I’rob ialah dampak (baik tampak maupun tidak) pada akhir isim mutamakkin dan fiil mudlori’ yang ditimbulkan oleh amil.
Seperti harokat dlummah,fathah,dan kasroh pada ucapan جاء زيدٌ,رأيتُ زيدًا dan مررتُ بزيدٍ. perhatikanlah, bukankah harokat-harokat tersebut merupakan dampak (yang tampak) yang ditimbulkan oleh ‘amil-‘amil yang memasukinya (yakni lafadz جاء,رأىdan huruf باء ).Adapun contoh dampak yang tidak tampak yaitu seperti harokat-harokat yang diyakini tersimpan pada akhir lafadz الفتى dalam ucapan جاء الفتى (tersimpan harokat dlummah),رأيت الفتى (tersimpan harokat fathah) dan مررتُ بالفتى (tersimpan harokat kasroh). Harokat-harokat yang tersimpan itulah i’rob itu.

Catatan: setiap isim yang berakhiran huruf alif (lazim disebut alif layyinah) seperti lafadz الفتى maka i’robnya pasti dikira-kirakan/tersimpan (Muqoddar) pada huruf alif tersebut karena selamanya alif tidak bisa menyandang harokat. I’rob semacam ini populer dengan sebutan I’rob taqdiry.

Ingat! Setiap kalimah tidak akan terlepas dari i’rob atau bina’(lawan i’rob); kalau tidak mu’rob (menerima i’rob), pasti mabny (tidak menerima i’rob / tidak berubah karena ‘amil).

B.Macam-macam I’rob
وأنواعه رفع ونصب في اسم وفعل كزيد يقوم وانّ زيدا لن يقومَ وجرّ في اسم كزيد وجزم في فعل كلم يقمْ
Macam-macam i’rob ialah sebagai berikut:
• Rafa’. (pada isim dan fiil), contoh: زيدٌ يقومُ
• Nashab. (pada isim dan fiil), contoh: انّ زيداً لنْ يقومَ
• Jarr. (spesial pada isim), contoh: كزيدٍ
• Jazm. (spesial pada fiil), contoh:لمْ يقمْ
C.Tanda-tanda i’rob.
Tanda-tanda asli keempat i’rob tersebut ialah dlummah untuk i’rob rafa’, fathah untuk i’rob nashab, kasroh untuk i’rob jarr, dan sukun untuk i’rob jazm sebagaimana contoh di atas.
Dan berikut ini adalah tanda-tanda I’rob yang keluar dari keasliannya:
1. I’rob jarr pada isim ghoiru munshorif (isim yang tidak menerima tanwin), yakni dengan tanda fathah.Contoh: مررتُ بأحمدَ , ومررت بأفضلَ منه . isim ghoiru munshorif ini sama dengan isim yang munshorif (menerima tanwin) dalam dua hal, yakni keduanya ditandai dengan harokat dlummah ketika rafa’ dan dengan fathah ketika dalam keadaan nashab. Dan berbeda dengan isim munshorif dalam dua hal, yaitu ia (isim ghoiru munshorif) tidak bisa ditanwin dan dijarrkan dengan tanda fathah.
Tetapi ada dua kondisi dimana isim ghoiru munshorif ini masih menggunakan tanda i’rob yang asli (kasroh pada kondisi jarr), yaitu:
• Ketika diidlofahkan, contoh: مررت بأفضلِ القوم
• Menyandang ال , contoh: مررت بالأفضلِ
2. I’rob nashab pada jama’ mu’annats salim (جمع المؤنث السالم)dengan tanda harokat kasroh sebagai ganti dari harokat fathah. Contoh: خلق اللهُ السّمواتِ lafadz السّمواتِ berposisi sebagai maf’ul bih sehingga harus terbaca nashob. Sedangkan tanda nashobnya adalah harokat kasroh.
Jama’ muannats salim adalah lafadz-lafadz yang proses penjamakannya dengan menambah alif dan ta’ .
Ada lima macam bentuk lafadz yang bisa di-jama’ muannats salim-kan, yaitu:
 Lafadz-lafadz yang menyandang ha’ ta’nits, seperti: طلحة dijama’kan menjadi .طلحات
 Lafadz-lafadz yang menyandang alif ta’nits , sepeti: حبلى menjadi حبليات
 Lafadz mudzakkar yang ditashghiir (dikecilkan) serta tidak berakal, seperti: دريهم menjadi دريهمات
 Lafadz-lafadz yang digunakan sebagai nama perempuan yang tanpa tanda mu-annats, seperti: زينب menjadi زينبات
 Kata sifat mudzakkar yang tidak berakal, seperti: معدودmenjadi معدودات
3. Pada asma’ as sittah (الأسماء الستة) , yaitu: dengan huruf wawu untuk tanda i’rob rafa’, dengan huruf alif untuk tanda i’rob nashob, dan dengan huruf ya’ untuk tanda i’rob jarr.
Asma’ as sittah tersebut ialah:
• ذو yang bermakna صاحب (yang mempunyai), contoh: جاء ذو مالٍ,
رأيتُ ذامال, مررتُ بذي مال .
jika tidak bermakna صاحب maka menurut bani thoyyi’, ia (ذو) dimabnikan sukun (wawunya selalu disukun) atas nama ia adalah isim maushul bermakna “yang” . contoh: جاء ذو قام, رأيت ذو قام, مررت بذو قام . Lafadz ذو selamanya tidak bisa diidlofahkan pada isim dlomir.
• فم dengan ketentuan mim-nya harus terlepas, jika tidak maka ia tetap menggunakan tanda i’rob yang asli yakni dengan harokat, seperti: هذا فَمُك, رأيتُ فَمَك,نظرتُ في فَمِك
• أب berarti: ayah, contoh: جاء أبوك, رأيت أباك, مررت بأبيك
• أخ berarti: saudara laki-laki, contoh: جاء أخوك ,رأيت أخاك, مررت بأخيك
• حم berarti: famili dari jalur suami, contoh: جاء حموك, رأيت حماك, مررت بحميك
• هن digunakan untuk samaran bagi perkara yang tabu, contoh:
هذا هنوك, رأيت هناك, نظرت إلى هنيك
Syarat penggunaan i’rob ini adalah sebagai berikut:
 Tidak dimudlofkan pada ya’ mutakallim
Jika semua isim tersebut diidlofahkan pada ya’ mutakallim maka dii’robi dengan tanda harokat yang dibayangkan ada pada huruf yang berada sebelum ya’ mutakallim, cth: هذا أبي, رأيت أبي, مررت بأبي
 Berbentuk mufrod
Jika isim-isim tersebut berbentuk jama’ atau tatsniyah maka tanda i’robny seperti tanda dalam betuk jama’ dan tatsniyah, contoh:
هذان أبواك, رأيت أبوَيْك (tatsniyah)
هم أباءُكم, رأيت أباءَكم (jama’taksir) dengan tanda i’rob asli.

 Berbentuk mukabbar (normal) atau tidak di-tashghiir
Jika dibentuk tashghir maka dimu’robkan dengan tanda harokat (tanda i’rob asli), contoh: هذا أُبَيُّك, رأيتُ أُبيَّك (dari أب ditashghir menjadi أُبَيُّ )
 Tidak menyandang ya’ nisbat
Jika menyandang ya’ nisbat maka dimu’robkan dengan tanda harokat (tanda i’rob asli) , contoh: هذا أبَويُّك
Catatan:
I’rob dalam asma-us sittah ada tiga model:
 I’rob taam, ialah i’ rob dengan huruf (wawu, alif, dan ya’) , contoh: جاء أبوك, رأيت أباك, مررت بأبيك
 I’rob naqsh, ialah i’rob dengan harokat (dlummah, fat-hah, dan kasroh) , contoh: جاء أبُك, رأيت أبَك, مررت بأبِك
 I’rob qoshr, ialah i’rob dengan harokat yang dikira-kirakan pada huruf alif dalam segala kondisi i’rob. , contoh: جاء أباك, رأيت أباك, مررت بأباك
Yang afshoh (paling fasih) bagi lafadz هن adalah menggunakan i’rob naqsh. Adapun dengan i’rob taam itu sedikit sekali orang arab yang menggunakannya. Saking sedikitnya, imam farro’ dan Abul Qosim Az Zajjajy tidak mengetahuinya sehingga mereka mengatakan bahwa isim-isim yang menggunakan i’rob taam ini hanya ada 5 ( Al khomsah), bukannya 6 (As-sittah).

4. isim tasniyah. (اسم تثنية/المثنّى)
Adalah termasuk yang menggunakan tanda i’rob pengganti/ tidak asli. Yakni menggunakan tanda alif untuk i’rob rofa’, dan ya’ untuk i’rob nashob & i’rob jarr.
Isim tatsniyah ialah isim yang menunjukkan arti “dua”/ganda sebagai bentuk ringkasan dari dua isim yang diathofkan (dihimpun), seperti lafadz الزيدان; sebagai bentuk ringkasan dari lafadz زيد و زيد.
Syarat-syarat isim bisa dibentuk tatsniyah, sebagai berikut:
 Mu’rob (menerima i’rob)
Maka lafadz yang mabni (lawan mu’rob) tidak bisa dibentuk tatsniyah. Adapun lafadzالّذان, الّتان, ذان, تان yang natabenenya sebagai isim-isim yang mabny) bukan merupakan bentuk tatsniyahnya lafadz الّذي, الّتي, ذي, تيakan tetapi merupakan lafadz-lafadz yang dibentuk (sejak awal) sebagai lafadz yang menunjukkan arti ganda.
 Mufrod
Maka lafadz-lafadz dlam bentuk jama’ dan tatsniyah tidak dapat ditatsniyahkan.
 Munakkar (isim nakiroh/ tidak ma’rifat)
Maka lafadz yang digunakan untuk nama/‘alam (العَلَم) dan masih mempertahankan status kema’rifatannya tidak dapat ditatsniyahkan. Jika bermaksud membentuk tatsniyah dari isim ’alam maka isim ’alam tersebut diniatkan sebagai isim nakiroh dengan memasang ال ,karena isim nakiroh adalah isim yang bisa menerima ال , seperti: الزيدان
 Tidak ditarkib
Maka lafadz yang sudah ditarkib (dirangkai) baik tarkib isnady maupun tarkib mazji tidak bisa ditatsniyahkan. Seperti lafadz بعلبك (tarkib mazji) dan تأبّطَ شرّاً(tarkib isnady) yang digunakan sebagai nama. Adapun tarkib idlofy dapat dibentuk tasniyah dengan mentatsniyahkan juz (bagian) yang pertama, contoh: عبد الله menjadi عبدا الله danخادم الدار menjadi خادما الدار
 Cocok lafadznya
Maka lafadz ابوين yang merupakan ringkasan dari اب وأمّ bukan tatsniyah melainkan mulhaq bit-tatsniyah.
 Cocok ma’nanya
Maka dua lafadz yang ma’nanya beda tidak dapat dibentuk tatsniyah. Seperti lafadzعين و عين yang salah satunya dikehendaki ma’na mata dan yang satunya lagi dikehendaki ma’na mata air (sumber) tidak boleh ditatsniyahkan menjadi عينان .
 Memiliki padan
Maka lafadz قمر (rembulan) yang mana tidak mempunyai padan karena di bumi hanya ada satu rembulan, tidak dapat ditatsniyahkan. Adapun lafadz قمرَيْنِ yang berasal dari شمس و قمر adalah Mulhaq bit tatsniyah bukan isim tatsniyah.
 Tidak terwakili oleh lafadz yang lain
Maka lafadz سواء (berarti: ‘sama’) tidak bisa dibentuk tatsniyah karena sudah terwakili (tercukupi) oleh tatsniyahnya lafadz ,سي yakniسيانِ (berarti: kedua-duanya sama). Tidak boleh dikatakan سواءانِ .
jika ada isim yang menunjukkan arti dua/ganda dan tidak memenuhi syarat-syarat di atas maka disebut Mulhaq bit tatsniyah (ملحق بالتثنية).
Ada beberapa isim yang i’robnya disamakan (Mulhaq) dengan isim tatsniyah, yaitu:
اثنان, اثنتان, ثنتان isim-isim tersebut bukan isim tatsniyah karena tidak mempunyai bentuk mufrod (tunggal). Jadi, isim-isim tersebut bukan merupakan bentuk ringkasan dari dua isim yang di’athofkan.
كلا, كلتا yang diidlofahkan pada isim dlomir. Jika di’athofkan pada isim dhohir, maka menggunakan i’rob taqdiry yakni dengan harokat (tanda i’rob asli) yang dikira-kirakan pada huruf alif. Karena! Ingat! Alif selamanya tidak mampu menyandang harokat.

5. Jama’ mudzakkar salim. (جمع المذكر السالم)
adalah termasuk yang menggunakan tanda i’rob pengganti/ tidak asli. Yakni menggunakan tanda huruf wawu dalam kondisi rofa’, menggunakan huruf ya’ pada kondisi nashab dan jarr. Dengan ketentuan: huruf yang berposisi sebelum wawu/ya’ dibaca kasroh dan huruf setelah wawu/ya’ terbaca fathah, Contoh: أفلح المجتهدون (rofa’) أكرمت المجتهدين (nashab) أحسنت إلى المجتهدين (jarr).

Bahan yang dapat dibentuk jamak mudzakkar salim ada dua macam:
1. Isim jamid
Dengan syarat:
 ‘Alam (nama)
 Mudzakkar (laki-laki)
 ‘Aqil (berakal)
 Tidak menyandang ta’ ta’nits
 Mufrod (tidak tatsniyah atau jama’)
 Tidak ditarkib
Contoh: زيد menjadi الزيدون
Maka lafadz رجل (bukan nama), هند (nama utk perempuan), لاحق (nama kuda), طلحة (menyandang Ta’ Ta’nits), الزيدان (tidak mufrod), سبويه (berbentuk tarkib mazji), tidak bisa dibentuk jama’ mudzakkar salim.
2. Isim sifat
Dengan syarat:
 Mudzakkar (laki-laki)
 ‘Aqil (berakal)
 Tidak menyandang ta’ ta’nits
 Tidak mengikuti wazan أفعل – فعلاء dan فعلان – فعلى
 Tidak dari lafadz yang bentuk mudzakkar dan mu’annatsnya sama.
Contoh: مجتهد menjadi المجتهدون
Maka lafadz حائض (sifat untuk perempuan, artinya: yang haid), سابق (sifat untuk kuda), علّامة (sifat yang menyandang Ta’), أحمر- حمراء (mengikuti wazan أفعل – فعلاء), سكران- سكرى (mengikuti wazan فعلان – فعلى), جريح(yang bisa digunakan untuk mensifati laki-laki dan perempuan), tidak bisa dibentuk jamak mudzakkar salim.
Berikut ini adalah beberapa lafadz yang dalam hal i’robnya disetarakan dengan jamak mudzakkar salim:
 أولو ; Bukan jama’ mudzakkar salim melainkan isim jama’. Contoh: لا يأتلِ أولوا الفضل منكم والسعة (rafa’)
انْ يؤْتوا أولي القربى (nashab)
انّ في ذلك لذكرى لأولي الألباب (jarr)
 عالَمون isim jama’. Karena tidk mempunyai bentuk mufrod. Adapun lafadz عالَم bukan merupakan bentuk mufrod dari lafadz عالَمون .
 عشرون – تسعون (bilangan puluhan dari dua puluh sampai sembilan puluh); kesemuanya adalah isim jama’ bukan jama’ mudzakkar salim.
 أرَضون ; jama’ taksirnya isim mu-annats yang tidak berakal, yakni lafadz أرْض (bumi).
 سِنون ; jama’ taksirnya lafadz سَنة (tahun). Lafadz سَنة ini adalah isim yang mu-annats yang tidak berakal, bentuk aslinya adalah سَنَو atau سَنه . kemudian wawu/ha’-nya dibuang dan diganti dengan ha’ ta’nits.
 Lafadz-lafadz yang berpola sama dengan سِنون , yaitu setiap bentuk jama’ dari isim tsulatsi (isim yang akar kata-nya terdiri dari tiga huruf) yang huruf akhirnya dibuang dan diganti dengan ha’ ta’nits, seperti lafadz قلين, عزين, عضين ; bentuk jama’ dari lafadz قلة, عزة, عضة .

6. Af’alul homsah / amtsilatul homsah (الأفعال الخمسة/الأمثلة الخمسة )
Af’alul khomsah (fi’il2 yang lima) ini ditandai dengan adanya huruf nun untuk i’rob rofa’-nya dan dengan terbuangnya huruf nun untuk i’rob nashob dan jazm-nya.
Contoh: فِيْهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (rofa’)
لن تفعلوا (nashob)
لم تفعلوا (jazm)
Af’alul khomsah tersebut adalah sebagai berikut:
1. يفعلان (يفعل + alif dan nun tanda i’rob); fi’il mudlori’ yang tersambung dengan alif tatsniah
2. تفعلان (تفعل + alif dan nun tanda i’rob); fi’il mudlori’ yang tersambung dengan alif tatsniah
3. يفعلون (يفعل + wawu dan nun tanda i’rob); fi’il mudlori’ yang tersambung dengan wawu jama’
4. تفعلون (تفعل + wawu dan nun tanda i’rob); fi’il mudlori’ yang tersambung dengan wawu jama’
5. تفعلين (تفعل + ya’ dan nun tanda i’rob); fi’il mudlori’ yang tersambung dengan ya’ mu_annatsah mukhothobah.
7. Fi’il mudlori’ mu’tal akhir (الفعل المضارع المعتلّ الأخر)
Ialah fi’il mudlori’ yang huruf akhirnya berupa huruf ‘illat, yakni: alif, wawu, dan ya’. Ia dijazmkan dengan menggunakan tanda “terbuangnya huruf ‘illat”. Contoh:
يخشى  لم يخشَ (membuang alif)
يرمي  لم يرمِ (membuang ya’)
يدعو  لم يدع (membuang wawu)

I’rob taqdiry (الإعراب التقديري)
Telah kita lalui i’rob dhohiry, yaitu i’rob yang menggunakan tanda yang jelas; tampak; bisa dirasakan oleh lisan. Dan berikut ini akan kita bahas i’rob-i’rob yang bersifat taqdiry atau kira-kira saja, artinya keberadaan tanda i’rob hanya dibayangkan berada pada huruf akhir. Contoh: جاء الفتى . pada contoh tersebut lafadz الفتى berkedudukan sebagai fa’il yang aturannya ia harus dibaca rofa’. Lha mana tanda i’robnya ? bisa dijawab: tidak kelihatan! Yaitu harokat yang dibayangkan ada pada huruf alif ‘mbengkong’ yang berada di akhir kalimat.
Kalimat-kalimat yang di-i’rob-i secara taqdiry tersebut adalah sebagai berikut:
 Kalimat-kalimat mu’rob yang berakhiran huruf ‘illat.
 Yang berakhiran alif.
Meliputi:
a. Fi’il mudlori’ yang berakhiran alif, seperti lafadz يهوَى
b. Isim maqshur, seperti lafadz الفتى
Keterangan:
Menggunakan i’rob taqdiry dalam tiga kondisi; rofa’, nashab, dan jarr. contoh: جاء الفتى, رأيتُ الفتى, مررتُ بالفتى, زيد يهوَى الهدى
Adapun dalam kondisi jazm ia menggunakan i’rob yang dhohir, yakni dengan tanda pembuangan huruf ‘illat. Contoh: لم نخشَ إلّا الله
 Yang berakhiran wawu dan ya’.
Meliputi:
a. Fi’il mudlori’ yang berakhiran wawu atau ya’, seperti lafadz يدعو ,يقضي
b. Isim manqush, seperti lafadz القاضي
Menggunakan i’rob taqdiry dalam dua kondisi, yaitu rofa’ dan jarr. يقضي القاضي على الجاني, يدعو الداعي إلى النادي
Adapun dalam kondisi nashob menggunakan tanda fathah yang dhohir (tampak). لن أعصيَ القاضيَ, ولن أدعوَ إلى غير الحقّ
Dan dalam kondisi jazm dengan membuang wawu dan ya’. لم أقضِ بغير الحقّ (membuang ya’), و لا تدعُ إلّا اللهَ (membuang wawu)
Catatan:
Isim yang berakhiran huruf alif disebut isim maqshur. Dengan ketentuan; huruf sebelum akhir berharokat fathah, seperti lafadz الفتى
Isim yang berakhiran huruf ya’ disebut isim manqush. Dengan ketentuan; huruf sebelum akhir berharokat kasroh, seperti lafadz القاضي

 Lafadz yang di-idlofah-kan pada ya’ mutakallim.
Dalam kondisi rofa’ dan nashob, ia dii’robi dengan dlummah dan fafhah yang dikira-kirakan pada huruf akhir. Dan huruf sebelum ya’ harus dibaca kasroh guna menyesuaikan dengan ya’. Harokat kasroh seperti ini biasa disebut dengan kasroh munasabah.¬
Contoh: ربّيَ الله, أطعتُ ربّي
harokat fathah pada ya’-nya lafadz ربِّيَ الله adalah harokat yang didatangkan untuk penyelamatan dari bertemunya dua huruf yang mati.

 Al mahky (Lafadz yang di-hikayah-kan/diceritakan) yang bukan jumlah.
Hikayah adalah mendatangkan lafadz persis seperti saat didengar.
Hikayah ada yang berupa hikayah kalimat (kata), dan ada yang berupa hikayah jumlah (kalimat sempurna).
Hikayah kalimat seperti كتبتُ يعلمُ (saya menulis kata ‘يعلمُ’). Lafadz يعلمُ asalnya adalah fi’il mudlori’ yang dibaca rofa’, dan dalam contoh ini ia sebagai yang diceritakan; sebagai maf’ul bih (obyek)-nya lafadz كتبتُ dan i’robnya menggunakan i’rob yang taqdiry.
Adapun Hikayah jumlah menggunakan i’rob mahally (i’rob mahally insya’Allah nanti akan dibahas ), seperti:
سمعتُ "حيّ على الصلاة" (saya mendengar kalimat “حيّ على الصلاة”).
 Kalimat-kalimat mabny atau jumlah yang digunakan sebagai nama.
ketika anda membikin nama dari lafadz yang mabny, maka lafadz tersebut tidak akan berubah dari keadaan semula dan i’robnya adalah i’rob taqdiry. Seperti lafadz رُبَّ yang digunakan sebagai nama dalam contoh: جاء رُبَّ, رأيتُ رُبَّ, مررْتُ بِرُبَّ
Begitu pula jumlah yang digunakan sebagai nama. Seperti lafadz تأَبَّطَ شَرًّا dalam contoh: جاء تأَبَّطَ شَرًّا, رأيتُ تأَبَّطَ شَرًّا, مررتُ بِتأَبَّطَ شَرًّا
I’rob mahally(الإعراب المحلّي)
I’rob mahally adalah i’rob yang bersifat abstrak (إعتباري). Tidak tampak jelas (ظاهري) . Tidak pula dikira-kirakan/dibayangkan (تقديري) . I’rob mahally hanya ada pada kalimat-kalimat yang mabny. Termasuk jumlah yang dihikayahkan.
Perlu diketahui bahwa baik kalimah mu’rob maupun mabny sama saja dalam pengaruh i’rob. Hanya saja, pengaruh pada mu’rob jelas (ظاهري) atau pembayangan (تقديري)dan pengaruh i’rob pada al-mabny bersifat abstrak (إعتباري). Misal سبويهِ yang mabny, dalam جاء سبويهِ , berstatus i’rob rofa’ dan dalam رأيتُ سبويهِ berstatus nashab. Artinya hanya posisinya saja yang beri’rob.
Namun demikian kalimat-kalimat mabni berikut ini tidak ada pengaruh i’rob sama sekali. Baik pengaruh yang bersifat dhohir, taqdir, maupun mahally\i’tibary. Yaitu:

• Huruf
• Fi’il amr
• Fi’il madli yang tidak didahului adat (piranti) syarat yang menjazmkan
• Isim fi’il
• Isim shout